Marmut mengirim surat kepada glatik
Entah mengapa dalam amarahmu masih saja aku sempat mencuri senyum. Mungkin sekadar simpul, namun yang pasti tak kecut. Sebab pelan-pelan kupaham seiring berlalunya masa, setiap kali dirimu mengambil jarak, aku seolah mematut-matut wajahku di depan cerminku sendiri. Ya, aku mendapati diriku yang lain pada dirimu. Aku jadi membayangkan, andai saja dunia sebelum ini ada mungkin saja kita dahulunya satu. Meski harapanku begitu, namun tentu saja tak begitu.
Kadang ada tanya menyelinap dalam kalbuku, kira-kira apakah kau tahu, baik dalam diam mengendap maupun dengan langkah terang-terangan bahwa diriku terlalu sabar terhadap satu hal yang tak patut lagi ditunggu sabar, kurang keras hati pada apa yang tak perlu dikasihani, dan tak bisa marah pada hal yang tak bisa dinilai lumrah. Sehingga tanpa diminta, kau pun memberikan semua jawaban, bahkan ikut pula mencontohkan, kadang tepat di depan mata, atau lewat telinga, juga imajinasiku.
Jawaban dan contoh itu semula terasa asing, seperti bukan bagian dari diriku. Ada bagian diriku yang seolah tergugat, merasa didominasi, ditundukkan, dan ingin berontak. Namun lama-kelamaan, dipersilakan maupun tidak, rasa asing itu seperti selalu membawa kerinduan, selalu ingin tarik-menarik, seolah menyadarkan, menginsyafkan, bahwa "itu" juga harus digamit dan tak harus ditampik lantas dijadikan terdakwa. Sebab itu pula yang nantinya melengkapi dan membuat kita merasa utuh, pada suatu masa entah kapan pada saatnya dibutuhkan.
Begitulah, pun dalam amarahmu aku masih saja sempat mencuri senyum, sebab aku seolah-olah mematut-matut diriku sendiri di depan cerminku sendiri. Siapapun tak mau kehilangan cermin miliknya. Aku tak mampu membayangkan suatu masa di mana aku tak kuasa lagi bercermin bila bayanganku padamu tak ada lagi.
Aaah...alangkah indahnya bercermin dan melihat diriku yang lain...
Kadang ada tanya menyelinap dalam kalbuku, kira-kira apakah kau tahu, baik dalam diam mengendap maupun dengan langkah terang-terangan bahwa diriku terlalu sabar terhadap satu hal yang tak patut lagi ditunggu sabar, kurang keras hati pada apa yang tak perlu dikasihani, dan tak bisa marah pada hal yang tak bisa dinilai lumrah. Sehingga tanpa diminta, kau pun memberikan semua jawaban, bahkan ikut pula mencontohkan, kadang tepat di depan mata, atau lewat telinga, juga imajinasiku.
Jawaban dan contoh itu semula terasa asing, seperti bukan bagian dari diriku. Ada bagian diriku yang seolah tergugat, merasa didominasi, ditundukkan, dan ingin berontak. Namun lama-kelamaan, dipersilakan maupun tidak, rasa asing itu seperti selalu membawa kerinduan, selalu ingin tarik-menarik, seolah menyadarkan, menginsyafkan, bahwa "itu" juga harus digamit dan tak harus ditampik lantas dijadikan terdakwa. Sebab itu pula yang nantinya melengkapi dan membuat kita merasa utuh, pada suatu masa entah kapan pada saatnya dibutuhkan.
Begitulah, pun dalam amarahmu aku masih saja sempat mencuri senyum, sebab aku seolah-olah mematut-matut diriku sendiri di depan cerminku sendiri. Siapapun tak mau kehilangan cermin miliknya. Aku tak mampu membayangkan suatu masa di mana aku tak kuasa lagi bercermin bila bayanganku padamu tak ada lagi.
Aaah...alangkah indahnya bercermin dan melihat diriku yang lain...
Label: refleksi

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda